Wednesday, May 14, 2014

Embun dan bunga teratai



Embun dan bunga teratai


            Dikisahkan, di sebuah kolam yang airnya berlumpur, tumbuh disana pohon bunga teratai muda. Suatu hari, saat daun teratai membuka matamemulai sebuah hari, dia merasa takjub dengan alam sekitarnya. Dan tiba-tiba si daun teratai merasakan, di atas hijau daunnya ada setitik embun yang hinggap begitu lembut dan bening.
            Dengan ceria, disapanya si embun, “hai kamu, engkau siapa? Dari mana datangmu, kok tiba-tiba ada diatas punggungku?”
            Si embunpun menjawab,” aku biasa di namakan embun. Saat menjelang pagi, alam semesta ini mengandung uap air yang terbawa hembusan angin dan menciptakan titik air yang menjadikan seperti diriku sekarang ini.”
            “wah, aku senang sekali bisa bertemu dan ditemani kamu.”kata si daun teratai.
            “maaf, teman. Aku tek bisa menemanimu berlama-lama, karena sebentar lagi matahari mulai bersinar, akupun harus segera pergi,”jawab si embun.
            “kenapa mesti pergi? Tetaplah disini bersahabat denganku.”
            “bukan aku tidak mau, tetapi begitulah sifat alam. Setiap embun di pagi hari, sebentar kemudian segera menguap bila tertimpa sinar matahari.”
            Sesaat sang matahari mulai terik, daun terataipun memohon,” tolong tetaplah disini embun, jangan pergi.”
            Namun, secepat itu pula si embun berlalu.
            Keesokan harinya, saat daun teratai memulai harinya, dia begitu gembira melihat sahabatnya kembali berada di punggungnya. Diapun menyapa riang.”hai sobat, kita berjumpa lagi!”
            Si embun balas berkata, “hai juga! Maaf, kita belum saling kenal, aku embun pagi.”
            “lho, bukankah kamu embun yang kemarin?”
            “bukan, aku embun hari ini. Aku tidak ada hubungannya dengan embun yang kemarin.”
            “tapi engkau sama persis dengan embun yang kemarin. Tetes air yang lembut, bening, dan menyejukan. Kenapa bisa berbeda?”
            “entahlah, aku ada ya seperti inilah. Selalu baru dan segera pergi dengan datangnya sinar mentari pagi.”dan tidak lama kemudian, embun itupun segera menguap tertimpa sinar mentari.
            Peristiwa serupapun terjadi dari hari ke hari, dan setiap hari daun teratai tidak mengerti, mengapa embun yang sama setiap hari tidak selalu mengakui dirinya seperti embun yang kemarin. Saat hari-hari berlalu terus hingga berganti bulan, si daun teratai pun berumur semakin tua, mulai terkoyak, akhirnya menguning dan kemudian siap di gantikan oleh tunas daun teratai yang baru.

0 comments:

Post a Comment